Problematika ZISWAF di Indonesia

(Oleh: Eri Sudewo)

Problem Lembaga Zakat:
1. Besar tapi programnya ecek-ecek
2. Programnya tidak signifikan
3. Ada program bagus, gaungnya luas tapi bingung bagaimana kelanjutannya
4. Ada program penuh gebyar tapi sebenarnya program itu biasa2 saja, Cuma kuantitasnya yg bertambah. (anak yatimnya bertambah, qurbannya bertambah, bingkisannya bertambah, santunannya bertambah???)
5. Latah menduplikasi program lembaga lain ( Ambulance, Bencana, sebar qurban, dll).
 Dampaknya? Mematikan Kreatifitas Lembaga dan SDM-nya, Mandegnya gagasan2 baru.

Berikut adalah Problematika itu:

Soal Bagaimana Memahami Posisi

Pertama, Zakat di Indonesia-bila dibandingkan Singapura, Malaysia dan Brunai- tidak mendapat dukungan penuh dari Pemerintah. Di negeri Jiran tersebut Zakat malah telah resmi menjadi pengurang Pajak.

Ke-2, Zakat di Indonesia dikelola oleh Negara juga Masyarakat.
Ke-3, Empat Milestone Ziswaf di Indonesia:
a. Prototype, munculnya BAZ sejak tahun 70-an
b. Ditingkat Mikro, lahirnya Moslem Newspaper Republika
c. Diranah Makro, terbentuknya FOZ 1997
d. Mulai 1998 lahir beragam LAZ
e. Meso, lahirnya Institut Manajemen Zakat (IMZ)

Soal Regulasi

Ke-4, Konsep Penataan yang ditawarkan UU Zakat No.38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat masih bias, belum matang, dan terkesan setengah jalan.
Ke-5, Dalam UU Zakat, LAZ dilegalkan tetapi di lapangan sering dianggap ‘Liar’. Padahal sebagian LAZ sudah ada sebelum UU tersebut lahir. Ada isu LAZ akan dibubarkan. Bahkan tak ada lagi izin untuk LAZ yang baru dibentuk.
Ke-6, Kita perlu memahami bahwa LAZ murni gerakan Masyarakat. Maka pemerintah sebaiknya memposisikan LAZ sebagai aset ketimbang pesaing.
Ke-7, PP tentang petunjuk pelaksanaan UU belum dibuat tetapi sudah ada Tuntutan adanya revisi atau amandemen UU tersebut.
Ke-8, Tahun 2010 draft revisi UU sudah masuk ke DPR
Ke-9, Jauh dari hiruk-pikuk hal tersebut, sesungguhnya lawan kita bukanlah BAZ atau LAZ, tetapi Kemiskinan yang harus ditanggulangi bersama. UU harusnya menjadi pemandu untuk mengatasi persoalan. UU hanya alat untuk mencapai tujuan.

Soal SDM

Ke-10, Secara Formal pembentukan BAZ sudah sampai tingkat kecamatan. Tetapi pelaksanaannya masih banyak kendala serius. Pemerintah masih setengah hati merekrut SDM guna mengelola ZISWAF
Ke-11, Hidup mati lembaga bergantung Kualitas SDMnya. Karena SDM akan berpengaruh sistemik.
Ke-12, Mana yang menjadi sebab? Rekruitmen setengah hati  Lembaga jadi kurang mantap, atau Lembaga kurang serius akibatnya SDMnya setengah hati.
Ke-13, Dengan Rekruitmen setengah hati, bisakah dikatakan kita berkhianat akan tugas KeAmilan? Jawab dengan jujur, Tugas keamilan itu diberikan kepada kita ataukah Kita yang mengambil kesempatan untuk jadi Amil? Catatan: Berkhianat itu tidak harus dengan korupsi, atau bertindak curang. Tidak sungguh-sungguh membuat diri Profesional juga merupakan bentuk Pengkhianatan atas kepercayaan yg diberikan.
Ke-14, Performa Lembaga akan diuji, terutama oleh donatur. Catatan: Kebanyakan donatur berasal dari kalangan terpelajar dan profesional. Apa yanng ada dibenak mereka bila donasinya dikelola oleh lembaga yang tidak diyakini profesional? Bilapun donatur tetap berdonasi, berapa lama motivasi dan kepercayaannya akan bertahan?

Pemberdayaan Macam Apa?

Ke-15, Dengan rekruitmen setengah hati, bisakah lahir program yang bisa atasi Persoalan utama kita yaitu Kemiskinan? Catatan: Problem orang miskin; secara internal mereka adalah orang-orang yang gagal mengelola POTENSI. Secara eksternal mereka gagal Memanfaatkan PELUANG. Performa SDM dan Lembaga yang setengah hati tidakkah justru akan memperburuk keadaan mereka??? Kita mendistribusikan sekian ribu paket sembako tapi setelah itu mereka tetap miskin. Kita menghimpun dan mendistribusikan sekian ribu hewan qurban, tetapi setelah itu mereka tetap miskin dan para peternak pun kembali miskin setelah berlalu beberapa hari gegap gempita hari raya.
Ke-16, Gerakan ZISWAF sesungguhnya sudah lama di Indonesia. Ini merupakan gerakan Religi dan sekaligus Kultural. Secara tradisional ZISWAF dilakukan untuk mendirikan dan menopang Masjid, Musholla, madrasah, dll termasuk bantuan sosial bagi si miskin, yatim.
Ke-17, Bicara santunan Yatim, inilah kekurangan cara pikir kita dalam mempersepsikannya. Seandainya anak Yatim tidak pernah disinggung Rasulullah, apakah kita akan bantu mereka? Kita hampir tak pernah memahami maknanya secara mendalam. ‘Anak Yatim’ hanyalah sebuah kiasan atas ‘ketidakberdayaan, kelemahan, ketergantungan,’ bukankah atribut itu juga ada pada anak-anak yg terlahir cacat, atau karena kecelakaan, gelandangan, anak autis. Jika mereka miskin dan Rasulullah tidak pernah membahasnya, apakah kita juga tak akan menaruh peduli pada mereka???
Ke-18, Begitu juga dengan orang gila yang berkeliaran di jalan-jalan. Menjadi bahan tertawaan, dan olok-olok. Kesadaran dan Upaya apakah yang telah kita perbuat untuk mereka?

Perubahan Paradigma

Ke-19, Gambaran kondisi di atas seharusnya menjadi bahan perencanaan pengelolaan ZISWAF. Bukan hanya untuk program bagi Mustahik tapi justru yang utama pembenahan internal lembaga. Kondisi internal yang baik, sehat, dan penuh motivasi, akan menelurkan program yang brilian dan akan berpengaruh bagi kondisi mustahik. Jika tidak, program hanya akan bersifat pengulangan, hanya bungkusnya yang berbeza.
Ke-20, Pada kebanyakan Lembaga, aktifitas yang dominan adalah Sosialisasi, dan fundraising. Canggih, memikat, mempesona dan gebyar di berbagai media. Oleh kalangan LSM, kegiatan serupa ini sering dikatakan ‘menjual kemiskinan’. Bila anda merasa tersinggung, maka segeralah ubah paradigma. Bila anda tidak tersinggung, anda tak cocok jadi Amil. Tak ada ruh, spirit dan motivasi Amil pada diri anda. Anda hanya bekerja , seperti bekerja di tempat lain. Anda belum paham tentang jati diri lembaga zakat.
Ke-21, Jadi yang pertama harus diubah adalah Paradigma para Amil. Kedua, harus diketahui betul posisi amil dan lembaga. Ketiga, maksud dan tujuan organisasi harus dipahami ulang. Keempat, karenanya rekruitmen Amil musti tidak kalah profesional dengan di perusahaan-perusahaan. Bahkan lebih dari itu, karena amil butuh jiwa mujahid. Kelima, program yg dirancang bagi mustahik harus ditekankan pada perubahan mindset, perilaku, etos kerja dan pemantapan mental.

Kepentingan, Tujuan atau Sekadar Latah?

Ke-22, Pada saat persoalan di atas belum terjawab, muncul lagi persoalan lain, yaitu munculnya LAZ-LAZ dadakan, lokal, akar rumput dan sejenisnya. Pondok pesantren, perusahaan, bahkan partai politik, baik yang berazas Islam maupun yang sekuler ramai-ramai memprakarsai berdirinya LAZ. Untuk kepentingan apa???
Ke-23, Hal ini patut direnungi secara mendalam. Ada yang melakukan dengan sekadar melakukan. Ada yang melakukan dengan tujuan. Jumlah yang mempunyai tujuan pasti lebih sedikit. Yang memahami posisi dan prinsip, jauh lebih sedikit lagi.
Ke-24, Beda, yang Memiliki tujuan dengan yang Latah. Dengan mengetahui tujuan, akan jelas untuk apa mengelola ZISWAF. Karena tahu Tujuan akan tahu pula bagaimana Tuntutan, kondisi dan apa yang harus dilakukan dalam pengelolaan ZISWAF. Yang tak tahu tujuan akan mudah menyimpang. Dan yang sekedar punya ‘kepentingan’ akan lebih berbahaya lagi.

Persaingan VS Fastabiqul Khoirot

Ke-25, Ada perbedaan antara Menghimpun dana sebagai tindakan Fundraising dengan Meraup Laba di dunia bisnis. Menghimpun berarti melakukan sesuatu untuk masyarakat, sedang Meraup adalah semata untuk pemilik. Menghimpun berada di ranah Nirlaba, sedang meraup pasti bisnis orientasinya. Jadi, uangnya bisa sama tapi niat dan tujuannya beda.
Ke-26, Adanya potensi dana ummat yang sangat besar, memicu terjadinya persaingan antar lembaga zakat. Iklan di media massa menunjukkan bukti ini.
Ke-27, Salama ini lebih kental nuansa persaingan ketimbang Fastabiqul Khoirot diantara lembaga zakat. Bagaimanapun yang namanya Persaingan sering tidak sehat. Bisakah kita tunjukkan bukti dimana senergi antarlembaga zakat kalau dikatakan Fastabiqul khoirot??? Catatan: Landasan fastabiqul khoirot dalam Islam itu tolong menolong. Jangankan menjegal, lawan minta bantuan saja sunnahnya ditolong.

KEMISKINAN, Musuh Sebenarnya

Ke-28, Kemiskinan itu dekat dengan kekufuran, ketidakberdayaan, keterbelakangan, kematian. Maka kemiskinan adalah musuh sesugguhnya. Siapa yang bisa atasi kemiskinan, berarti dia punya kiat membangun kehidupan. Karenanya kiat itu wajib ditularkan dan boleh dicontoh, tak boleh dirahasiakan kiatnya.
Lembaga Zakat yang merahasiakan kunci suksesnya, berarti dia suka melihat orang miskin yang dibina lembaga lain. Begitu pula yang tak mau belajar karena gengsi, dia secara sengaja membiarkan si miskin yang dibinanya tetap miskin.
Ke-29, Tanpa sadar kita berkutat pada persaingan antar lembaga. Lama-lama akan membutakan mata hati. Kita jadi lupa siapa lawan siapa kawan. Ingat, musuh kita bukan sesama lembaga zakat atau pemerintah, tetapi kemiskinan itu.
Ke-30, Karena sibuk dengan urusan persaingan, kita jadi lupa untuk merancang program secara sungguh-sungguh bagi mustahik. Buktinya yang diperhebat adalah Startegi marketing, fundraising. Kita lupa, zakat sejatinya sama dengan sholat. Tanpa dimarketing pun, zakat tetap wajib. Energi kita jadi lebih banyak terkuras untuk proses marketing, menjaga donatur agar tetap loyal.
Ke-31, Imbasnya, kita lebih memilih merancanng program untuk mustahik yang populis. Padahal program itu seringkali juga berasa tidak adil, tidak merata dan tidak esensial. Kadang kita terperangah melihat lembaga lain begitu gencar di media, dikenal, dielu-elu dan dipuji donatur???

Membangun Kehidupan

Ke-32, Yang kita khawatirkan adalah persaingan yang dis-orientasi. Tahukah bahwa produk nirlaba adalah ‘membangun kehidupan’. Membangun kehidupan berarti bicara tentang NILAI. Ke-33, Berada di Lembaga Zakat berarti berada di lembaga Nirlaba. Kalau produk dari perusahaan adalah barang dan jasa, maka produk dari lembaga zakat dalah Nilai Kehidupan.
Ke-34, Nah, bila tujuannya membangun kehidupan, lantas kenapa kesuksesan itu seolah-olah diukur dari jumlah himpunan dana, jumlah donatur, jumlah hewan qurban, kantor cabang, jumlah aset dll.?!
Ke-35, Jika ukuran-ukuran itu yang kita yakini, berarti kita baru tahu jadi amil tapi belum paham. Seperti kita tahu peta tapi tak tahu medannya. Kata Rasulullah, “Kemiskinan itu bukan karena tidak punya satu atau dua biji kurma, kemiskinan adalah ketidakmampuan mengelola sumber daya.”
Ke-36, Negeri kita kaya, barang tambang apa saja ada. Mengeksplorasi kekayaan alam saja sulit, lebih sulit lagi mengeksplorasi zakat yang masih dikantong para muzakki. Itu baru eksplorasi makna zakat secara zahir, bahwa muzakki harus mengeluarkan 2,5% dari hartanya.
Ke-37, Makna zakat yang non-zahir yaitu sedekah. SBY sebagai muzakki sudah mengeluarkan 2,5 % zakatnya, tetapi sebagai Presiden apa sedekahnya? Salah satu yang terpenting bahwa sedekah pemimpin adalah KEBIJAKAN. Maka seperti apakah Kebijakan yang lahir dari kepemimpinan beliau?
Ke-38, Sedikit sekali yang yakin bahwa persoalan Indonesia berkait erat dengan Perilaku buruk/ Bad carracter. Titik pangkal carut-marutnya Indonesia terletak pada ‘tidak dimilikinya lagi sifat-sifat baik dan perilaku baik’. Ada ‘karakter kebaikan’ yang hilang.

*) Disampaikan pada Seminar Zakat di IAIN Walisongo Semarang, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s