Beberapa Hal Tentang Pelaksanaan Qurban

Alhamdulillah segala puji bagi Allah ‘azzawajalla yang telah memberikan kita beragam nikmat yang tak terhitung. Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Alhamdulillah, melalui media yang sederhana, bulettin Percikan Iman hingga kini telah terbit 14 edisi. Dua edisi yang lalu kita telah membahas tentang tuntunan berqurban dan panduan tentang Idul Adha. Edisi kali ini insyaallah kami akan menyampaikan beberapa catatan tentang praktek pelaksanaan  qurban di masyarakat.

Ide ini sebenarnya muncul ketika kami menyimak beberapa masukan dan pertanyaan dari para pendengar saat kami diundang sebagai narasumber program aspirasi merah putih di RRI. Siaran acara tersebut berlangsung pagi dini hari pukul 03.00 sampai 04.00 wib. Diwaktu tersebut lumrahnya kebanyakan orang sedang menikmati istirahat malamnya. Dan kamipun ragu apakah ada pendengar yang akan menelpon untuk berinteraksi pada acara tersebut. Tetapi diluar dugaan, program acara yang disiarkan secara nasional itu banyak juga pendengar setianya yang memantau. Ada penelpon dari Tanjung Pinang, Batam, Depok, Makassar bahkan Singapur.

Tema yang kami bawakan saat itu adalah tentang Qurban. Kami tidak banyak memaparkan tentang aspek fiqh qurban karena sudah kami sampaikan pada kesempatan siaran pekan-pekan sebelumnya di jam reguler. Kami lebih banyak berdialog seputar problematika pelaksanaan qurban di masyarakat dan bagaimana pemerataan distribusi daging qurban bisa tercapai. Melalui beberapa masukan dan pertanyaan pendengar kami tertarik untuk menyampaikan kembali melalui media bulettin ini dengan beberapa penambahan.

Beberapa anggapan keliru tentang Qurban:

  1. 1.       Berqurban cukup sekali seumur hidup.

Masyarakat beranggapan bahwa qurban adalah ibadah yang hanya cukup dilakukan sekali seumur hidup. Jika sudah pernah berqurban maka tidak perlu lagi berqurban. Anggapan ini keliru karena Nabi menegaskan bahwa qurban adalah ibadah yang sangat dianjurkan. Beliau SAW bahkan menegaskan “Barangsiapa yang tidak berqurban padahal memiliki kemampuan, maka janganlah mendekati tempat shalat kami.” Nabipun berqurban setiap tahun.

  1. 2.       Pequrban harus melihat Hewan Qurbannya

Banyak masyarakat berkeyakinan bahwa pahala qurbannya akan lebih banyak jika si pequrban dapat menyaksikan langsung penyembelihan hewan qurbannya. Pequrban merasa lebih afdhol. Padahal keyakinan tersebut tidak berdasar. Setiap amal ibadah itu bergantung pada niatnya. Jika pequrban sudah mengamanahkan hewan qurbannya kepada panitia qurban, meskipun tidak melihat langsung penyembelihannya, insyaallah pahala itu sampai dan ganjarannya sebagaimana apa yang telah diniatkan.

  1. 3.       Berqurban harus di Masjid/ Mushalla

Sebagian masyarakat berkeyakinan bahwa qurban itu sebaiknya dilaksanakan di masjid. Hal ini juga tidak ada asal usulnya. Nabi ibrahim saat akan menyembelih Ismail tidak dilakukan di depan ka’bah bukan? Pelaksanaan qurban dapat dilakukan dimana saja, tidak harus di masjid. Yang terpenting adalah distribusi daging qurban dapat dinikmati oleh mereka yang berhak menerimanya. Sangat memungkinkan, jika dilakukan di halaman masjid, akan mengotori dan meninggalkan bau tak sedap disekitar masjid yang dapat mengganggu kenikmatan ibadah sholat para jamaah.

  1. 4.       Harus Orang Kaya

Pemahaman ini juga tidak benar. Sama seperti zakat, qurbanpun ada nishobnya. Bagaimana nishob untuk qurban? Yaitu kalau seseorang itu punya harta, kemudian cukup untuk makan, minum, berteduh, berpakaian, selama empat hari mulai dari tanggal 10 dzulhijjah (pada hari raya Idul Adha) hingga hari-hari tasyrik, lalu masih ada sisanya minimal seharga satu ekor domba, maka jatuh kepadanya untuk sunnah menyembelih hewan kurban.

Memang ini kembali kepada keyakinan masing-masing individu, apakah ia merasa sudah cukup berqurban atau memang justeru termasuk yang berhak menerima daging qurban. Kalau Allah dulu menguji Nabi Ibrahim dengan pertaruhan anaknya, kepada kita saat ini Allah menguji apakah kita lebih sayang kepada harta kita atau lebih mencintai Allah? Padahal tidak ada sedekah yang lebih baik pada hari Raya Agung (Idul Adha) daripada menyembelih hewan qurban dan menyedekahkan dagingnya. Pastinya Allah akan mengganti harta yang kita gunakan untuk berqurban itu dengan ganti yang jauh lebih baik dan sempurna. Yakinkah kita?

  1. 5.       Semakin banyak Hewan Qurban Semakin Sukses Kepanitiaan

Ada anggapan pada sebagian pengurus masjid/ kepanitiaan qurban masjid, bahwa semakin banyak hewan qurban terkumpul, semakin sukses juga kepanitiaan atau pelaksanaan qurbannya. Penilaian ini tentu tidak benar juga. Ukuran kesuksesan sebuah kepanitiaan qurban bukan semata-mata banyaknya pequrban yang menyetorkan uang qurban/ hewan qurbannya ke panitia/ ke masjid. Kesuksesan panitia qurban seharusnya banyak ukurannya.

Kesuksesan pertama Panitia qurban adalah jika mampu mengedukasi masyarakat tentang kedudukan qurban dari segi agama dan sosial. Masyarakat menjadi paham secara utuh apa dan bagaimana ibadah qurban itu. Keberhasilan kedua, adalah jika kepanitiaan qurban dapat melaksanakan pengadaan hewan qurban dan  penyembelihan secara benar dan efektif efisien. Yang ketiga, kepanitiaan dikatakan sukses jika distribusi daging qurban sesuai dengan target sasaran yangn prioritas membutuhkan. Jadi bukan azas pemerataan yang didahulukan. Dan yang keempat, sukses menjaga kepercayaan dari mudhohi (pequrban).

Setidaknya empat sukses itulah yang seharusnya menjadi target pencapaian panitia qurban. Jadi bukan berlomba-lomba antar masjid/ musholla untuk mendapatkan hewan qurban sebanyak-banyaknya.

 

Hal-Hal yang sering diabaikan Panitia Qurban:

Panitia Qurban, baik itu di masjid, mushalla, sekolah, institusi pemerintahan maupun perusahaan-perusahaan pada dasarnya adalah orang, kelompok atau lembaga yang diberikan amanah oleh si pequrban untuk melaksanakan prosesi qurban. Prosesi qurban itu dimulai dari akad dengan pequrban, pemilihan hewan qurban, penyembelihan sampai distribusi daging qurban. Jadi kalau dilihat prosesnya, pelaksanaan qurban ini tidak sederhana dan membutuhkan pemahaman serta keahlian dalam mengelolanya.

Sayangnya, banyak orang yang mengabaikan tuntunan yang baik dalam pelaksanaan qurban tersebut. Pengabaian terhadap hal-hal tersebut setidaknya dapat berdampak pada 2 hal. Pertama, qurban yang dilaksanakan bisa tidak sah sebagaimana ketentuan syariat. Kedua, tidak tercapainya tujuan qurban secara sosial, yaitu nilai kemanfaatan yang maksimal bagi masyarakat fakir miskin yang paling berhak mendapatkan. Berikut adalah beberapa hal yang sering diabaikan panitia qurban:

  1. 1.       Tidak memiliki pemahaman Syar’I yang memadai

Poin pertama ini berkaitan dengan 3 hal; akad menerima amanah dari si pequrban, pengadaan hewan qurban sesuai syariat, dan proses penyembelihannya. Panitia qurban harus menjalankan mekanisme akad secara jelas dengan pequrban. Tidak rumit, tetapi harus ada kejelasan maksud dan keinginan dari pequrban termasuk biaya qurban atau biaya lain yang mungkin ada. Bagi panitia harus jelas siapakah panitia yang dimaksud? Siapa yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan qurban?

Selanjutnya, panitia harus mengerti bagaimana memilih hewan qurban yang paling baik sesuai kesepakatan dengan pequrban. Panitia juga harus siap bertanggung jawab hewan tersebut sehat dan kondisi baik sampai tiba penyembelihan. Artinya jika sesuatu terjadi pada hewan qurban dan mengakibatkan hewan tersebut mati, maka panitia harus siap mengganti dengan spesifikasi hewan qurban yang sama.

Panitia qurban tidak boleh mengabaikan ketentuan syariat pada saat penyembelihan. Misalnya tidak lupa menajamkan pisau atau golok, memperlakukan dengan baik hewan qurban, dan membaca basmalah. Lupa membaca basmalah atau menyebut nama Allah saat menyembelih, berakibat fatal. Daging qurban menjadi tidak halal dan akhirnya mubazir.

  1. 2.       Tidak melakukan kontrol lapangan saat melakukan penyembelihan
  2. 3.       Meminta upah dari bagian hewan qurban

Sebagian orang yang bertindak sebagai panitia qurban mengharapkan atau secara terang-terangan meminta bayaran/ upah dari bagian hewan qurban seperti kulitnya, kepala atau kaki. Hal ini harus dihindari karena Rasul melarang mengupah petugas jagal/ panitia qurban dengan bagian tertentu dari hewan qurban. Upah panitia atau petugas jagal seharusnya sudah dibicarakan sejak awal dan ada kesepakatan. Mekanismenya bisa dengan; pequrban memberi lebih dari uang pengadaan hewan sebagai upah panitia. Atau, panitia menjelaskan bahwa sekian rupiah dari harga penawaran hewan qurban digunakan untuk operasional panitia. Hal tersebut lebih menjamin kesesuaian syariat dan keikhlasan dari masing-masing pihak.

  1. 4.       Kurang mempersiapkan distribusi daging qurban

Kebanyakan panitia qurban, tidak mempersiapkan lokasi distribusi atau orang-orang yang berhak menerima daging qurban. Sehingga, panitia qurban mengambil mudahnya saja. Qurban dilaksanakan di masjid, musholla atau institusi kemudian daging qurban dibagi-bagikan secara merata ke rumah-rumah dilingkungan sekitar tempat pelaksanaan. Jika ternyata jumlah pequrban banyak dan hewan qurban melimpah, panitia pada akhirnya akan kesulitan untuk melaksanakannya, kontrol, maupun pendistribusiannya.

Panitia yang mulai kewalahan ini akhirnya sekedar membagikan kepada warga bahkan setiap orang yang lewatpun dibagikan daging qurban. Satu keluarga bisa mendapatkan 5-10 kg daging. Sementara itu ironisnya di daerah yang agak pelosok bahkan sangat pelosok, dimana sedikit sekali pequrban atau tidak ada sama sekali hewan qurban disana, tidak dapat bergembira dengan menikmati daging qurban yang mungkin bagi mereka hanya dapat dirasakan setahun sekali.

  1. 5.       Tidak menyiapkan dokumen Laporan untuk pequrban

Tidak sedikit panitia qurban yang beranggapan bahwa ketika hewan qurban telah disembelih dan daging qurban selesai dibagikan, selesai juga tugasnya sebagai panitia. Mereka lupa bahwa kegiatan yang dilakukan itu harus dibuat pertanggungjawabannya kepada masing-masing pequrban. Biasanya bentuk pertanggungjawaban qurban berupa foto dokumentasi (hewan hidup, saat disembelih dan distribusi kepada penerima manfaat) dan berita acara pelaksanaan qurban.

Yang banyak terjadi adalah panitia qurban tidak menyiapkan hal-hal tersebut dan cukup sekedar memberikan pengumuman serta ucapan terimakasih melalui masjid/ mushalla. Meskipun tampak sederhana, namun hal-hal tersebut harus dipersiapkan dan dalam era modern, ini merupakan bagian dari azas profesionalisme dan akuntabilitas sebagai pihak yang diberi amanah.

Demikianlah beberapa catatan penting yang sering terlupakan dalam pengelolaan qurban di masyarakat kita. Mudah-mudahan beberapa catatan diatas dapat memberikan penyempurnaan bekal bagi panitia qurban dimanapun berada yang sebantar lagi akan bertugas.

Oleh: Fatih Abdul Aziez, S.Sos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s