Belajar ITSAR dari Ramadhan

Islam mengajarkan kita bahwa selain sebagai hamba Allah ( makhluk individu), manusia juga diwajibkan untuk bergaul, berinteraksi (bermuamalah) dengan manusia lain ( makhluk sosial ). Bahkan ajaran Islam justeru banyak menerangkan dan mengatur bagaimana bermuamalah. Seperti perkara nikah, mengurus jenazah, perdagangan, politik, pemerintahan, peperangan, ekonomi, jual beli, dan lain sebagainya. Bahkan zakat yang merupakan rukun Islam, sesungguhnya adalah ibadah yang kental akan dimensi sosial-ekonomi.

 

Untuk memelihara hubungan antarmanusia, Islam mengajarkan beberpa karakter/ akhlak yang perlu dimiliki oleh setiap muslim. Dengan akhlak-akhlak tersebut tujuan dari tercapainya kesejahteraan, ukhuwah dan terpeliharanya umat manusia dari kerusakan dapat tercapai. Salah satu karakter yang perlu kita pelajari sebagai Muslim adalah Itsar.

 

Itsar adalah sikap dan perilaku yang lebih mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan pribadi. Itsar adalah jenis kebaikan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Kisah tentang Itsar sampai-sampai Allah turunkan dalam Al Quran surah Al Hasyr ayat 9.

 

“Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Islampun memerintahkan kita untuk menjaga ukhuwah diantara sesama muslim. Jika bentuk terendah dalam ukhuwah dianatar kita adalah selamatnya hati kita dari prasangka buruk (salamatush shodr) maka bentuk tertinggi dari ukhuwah adalah Itsar.

Perilaku Itsar telah dicontohkan oleh para sahabat dari golongan Anshor ketika rombongan para sahabat Muhajirin tiba di Madinah. Di dalam Sunnah (hadits) kita dapatkan gambaran lain sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa Sa’ad bin Rabbi’ telah menawarkan kepada Abdur Rahman bin Auf setelah keduanya dipersaudarakan oleh Nabi SAW untuk bersedia diberi separuh dari hartanya, salah satu dari rumahnya dan salah satu dari isterinya untuk dicerai, lalu disuruh menikahinya. Maka Abdurahman bin Auf berkata kepada Sa’ad bin Rabi’ “Semoga Allah memberkahi keluargamu, semoga Allah memberkahi rumahmu, dan semoga Allah memberkahi hartamu, sesungguhnya aku adalah seorang pedagang, untuk itu tunjukilah aku di mana pasar.” Kisah inilah yang Allah tuangkan dalam Ayat 9 Al Hasyr tadi.

Itsar sungguh merupakan akhlak yang mulia. Didalamnya terkandung beberpa akhlak terpuji lainnya. Seperti pengorbanan, kasih sayang, cinta pada kebaikan, mendahulukan yang utama, sedekah, tolong menolong, kesabaran, dan ketaatan.

 

Kisah-kisah itsar akan banyak bisa kita temui didalam kisah-kisah sahabat. Kini kita hidup dizaman milenium ke tiga. Kita hidup ditengah roda kehidupan yang amat keras, sekuler dan jauh dari nilai-nilai agama. Nilai-nilai dan tauladan istar semakin sulit kita temui.

 

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang tepat untuk mengajarkan perilaku Itsar pada diri kita dan orang lain. Bulan mulia dimana peluang kebaikan amat terbuka luas. Di bulan ini setiap orang berkesempatan untuk saling berbagi, karena itulah dimana-mana kita mudah menyaksikan orang berbagi hidangan berbuka puasa untuk yatim atau keluarga-keluarga dhuafa. Banyak pula orang memberi bingkisan, santunan atau pemberian lain demi mengharap pahala kebaikan dari apa yang telah dilakukan.

 

Umumnya orang lebih mudah, lebih banyak berzakat dan bersedekah dibulan ini. Tentu ini merupakan sebuah kebaikan yang perlu ditiru. Lalu bagaimanakah kita dapat melatih diri kita, keluarga dan lingkungan sekitar kita untuk dapat memiliki akhlak itsar ini?

 

Itsar dapat dilakukan pada hal-hal yang sederhana. Misalkan ketika anda telah menyiapkan rencana dan anggaran untuk berwisata bersama keluarga, tiba-tiba ada teman atau tetangga yang membutuhkan biaya untuk membayar pendaftaran sekolah. Bagaimanakah sikap anda? Jika anda merelakan uang anda demi membantu saudara/ tetangga tersebut, maka anda sudah berbuat Itsar. anda telah mendahulukan kepentingan orang lain.

 

Atau mungkin kesempatan lain, anda memiliki mobil dan terbiasa kemana-mana dengan mobil anda itu. Suatu saat tetangga yang hanya mempunyai motor, membutuhkan mobil untuk mengantar jemput anggota keluarganya yang sakit. Mobil anda dibutuhkan untu 2-3 hari dan anda terpaksa menggunkan motornya untuk bekerja dan bepergian. Apakah anda bersedia dengan permintaan tolongg tetangga anda? Apakah anda merasa ada yang berkurang? Gengsi, dan sebagainya? Jika anda dengan senang hati membantu, berarti anda telah berbuat Itsar.

 

Memberi santunan kepada anak yatim, sesungguhnya merupakan bentuk itsar juga. Berinfaq sedekah juga memiliki spirit itsar juga. Kita merelakan sebagian harta dan rezeki kita untuk berbagi bersama orang lain yang amat membutuhkan. Memberi orang lain berbuka puasa juga contoh-contoh perbuatan itsar.

 

Mungkin dari latihan hal-hal yang kecil dan ringan dalam itsar, kita kelak dapat melakukan itsar pada hal-hal yang berat.  Seperti kisah berikut ini.

“Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Suatu hari Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk bershadaqah, dan saat itu saya memiliki harta. Saya pun bergumam, ‘Hari ini saya akan mengalahkan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, saya akan sedekahkan separuh hartaku.’

 

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu wahai Umar?’  Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab, ‘Separuhnya lagi.’

Ternyata datanglah Abu Bakar membawa semua hartanya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Lalu apa yang engkau sisakan untuk keluargamu.’ Maka Abu Bakar menjawab, ‘Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.’” (HR Abu Dawud dan At Tirmidzi dengan sanad hasan. Lihat Tahqiq Misykah: 6021)

Subhanallah, sangat indah perilaku untuk mendahulukan orang lain. Seharusnya kita meniru untuk senantiasa dapat mencontoh suri teladan tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s