Habil-Qabil, Ibrahim dan Kita

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang mendapat kedudukan sangat istimewa dalam Islam. Ia menjadi istimewa bukan hanya karena berisi sekian perintah ibadah, melainkan juga mengandung esensi sejarah. Dalam bulan Dzulhijjah setidaknya ada 2 perintah ibadah yang utama; haji dan qurban.

Haji merupakan ibadah yang kedudukannya tinggi. Ia merupakan satu dari lima rukun Islam. Tanpa ibadah yang satu ini tidak lengkaplah Islam seseorang. Ia juga merupakan ajaran yang historisnya sampai kepada nabi Ibrahim. Bapak para nabi. Kepada jamaah haji yang mampu menjalani ritual ini dengan baik dan pulang sebagai haji mabrur, Allah telah menyediakan untuknya surga.

Banyak ulama mengulas tentang ibadah haji dan menilainya sebagai ibadah pamuncak. Sebagai puncak ibadah karena haji merupakan ibadah yang paling banyak membutuhkan modal atau bekal. Mulai dari modal tabungan, kesehatan, kesempatan dan tentunya tekad yang bulat. Kita butuh modal cukup karena secara finansial haji adalah ibadah yang paling ‘mahal’. Untuk bisa mendapat kuota saja kita harus setor sekian juta. Dan untuk memastikan keberangkatan ke tanah suci, kita harus melunasinya dengan bilangan jutaan rupiah juga. Kadang, kalau bukan banyak, ‘mahal’ itu sendiri masih harus dipermahal dengan seremoni lain sebagai  pelengkap. Seremoni sebelum berangkat dan seremoni sesudah tiba di tanah air.

Sebelum keberangkatan seremoni itu kita namai ‘Pamitan’ dan sekembalinya kita ke tanah air seremoni itu kita sebut tasyakuran. Disebut pamitan karena seseorang akan pergi jauh sekali. Melintasi negara dan melampaui benua. Meninggalkan anak istri, segenap famili termasuk segala urusan duniawi. Disebut pamitan karena perjalanan yang jauh sekali itu belum tentu kita akan kembali. Karena mengandung sesuatu kondisi yang belum pasti, maka kita merasa perlu untuk pamitan. Nah, untuk urusan pamitan inilah kita acapkali keliru.

Karena haji itu derajatnya tinggi, tempatnya jauh sekali, biayanya lumayan tinggi dan tidak ada jaminan kita akan kembali, prosesi pamitan tiba-tiba menjadi penting. Karena penting, ia harus dipersiapkan dengan hati-hati. Dan celakanya, ongkos pamitan ini sering menyita energi bahkan menyaingi si ongkos naik haji.

Haji juga dikatakan ibadah puncak karena didalamnya terhimpun beberapa jenis ibadah. Ibadah maaliyah (harta), jasadiyah, batiniyah, dan fikriyah. Haji menggabungkan unsur fisik tubuh, hati, fikiran dan harta. Ibadah fisik karena haji memang harus ditopang oleh fisik yang memadai. Dari rumah menuju asrama haji, dari asrama ke bandara. Dari bandara menuju tanah suci. Sudah sampai sana kita akan bertemu Ka’bah dan dihadapan ka’bah itu diperintah berkeliling tujuh kali.

Untuk menapak tilas sejarah Siti Hajar dan Ismail, kita diperintah untuk Sa’I bolak balik tujuh kali pula. Semua itu melelahkan dan fisik harus senantiasa prima. Setelah wukuf di Arafah kemudian kita ke Mina dan lontar jumroh tujuh kali. Lontar batu sebagai simbol perlawanan terhadap iblis itu prakteknya juga tidak mudah karena salah-salah batu yang kita lempar itu bisa mental kembali. Untuk hal ini jangan sampai terjadi.

Haji juga ibadah yang melibatkan batin. Untuk melaksanakan semua prosesi ini jelas dibutuhkan kondisi hati yang tenang, jernih dan lapang dada. Tanpa niat yang bersih, ibadah haji akan menemui banyak kendala. Pahala belum tentu dapat draih.

Puncak ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Wukuf yang sekian jam itu esensinya adalah tafakkur. Maka sesi ibadah ini adalah ibadah yang melibatkan fikiran. Untuk apa? Untuk mentafakkuri segala sesuatunya yang berkenaan dengan diri kita: usia kita, harta kita, ilmu kita, amanah kita, keluarga kita, nikmat dan karunia Allah, dan segala urusan yang melibatkan kita dengan sang Maha Pencipta. Jadi ibadah ini adalah ibadah yang kompleks. Dan karena kompleks itu ganjarannya juga tidak tanggung-tanggung. Jaminan surga.

Selain haji, ibadah utama yang disyariatkan didalam bulan Dzulhijjah ini adalah Qurban. Qurban, meskipun tidak berstatus wajib dan bukan bagian dari rukun Islam, kedudukannya amat mulia. Statusnya sunnah muakkadah dalam bahasa fiqh. Sunnah yang amat sangat dianjurkan. Keistimewaan qurban bukan dari biayanya atau kompleksitas pelaksanaannya melainkan dari esensinya.

Qurban adalah ibadah sosial selain sebagai ibadah individu. Sebagai ibadah individu, qurban adalah perlambang keihklasan, kepatuhan dan kecintaan hamba kepada Tuhannya. Jadi ada unsur ikhlas, patuh dan cinta kepada Sang Pencipta. Qurban menjadi salah satu ujian kepada manusia. Apakah ia lebih mencintai hartanya ataukah lebih mencintai Tuhannya.

Qurban sejatinya adalah ibadah yang amat menyejarah. Usia peribadatan ini secara zohir telah melewati bentangan waktu lebih dari 3000 tahun, yaitu sejak zaman nabi Ibrahim dan Ismail. Secara maknawi, ibadah qurban ini malah bisa ditarik lagi ke zaman ketika bumi ini baru diisi 6 orang manusia. Yaitu ketika Allah hendak menguji qurban siapakah yang lebih baik antara Habil dan Qobil, putra nabi Adam. Tidak main-main, ibadah qurban ini ternyata jenis ibadah yang sangat tua usianya.

Jadi salah satu hikmah ibadah qurban sesungguhnya adalah memperingati momen penting dalam sejarah tua kehidupan manusia. Ibrahim- Ismail dan Habil-Qobil.  Ini seperti pertalian silaturrahim antar generasi. Dimulai dari Habil-Qobil berlanjut di zaman Ibrahim dan akhirnya sampai kepada kita sekarang ini. Demi tidak memutus pertalian ikatan sejarah ini, Allah mensyariatkannya untuk berqurban setiap tahun.

Selain momentum reuni sejarah tadi, hikmah lainnya adalah kita bisa melihat bahwa qurban, baik versi Habil-Qobil, episode Ibrahim-Ismail maupun zaman kita sekarang ini, esensinya sama. Kembali pada 3 esensi diatas; kepatuhan, keikhlasan dan cinta. Dan hebatnya lagi, karena qurban telah jelas bagi kita sebagai bentuk ibadah yang usianya hampir seusia sejarah manusia, maka nilai-nilai esensi yang dibawanya juga berada pada kedudukan yang amat luhur.

Kalau kita mau membawa kepada konteks yang lebih luas, nilai kepatuhan, keikhlasan dan cinta, sejatinya adalah formula kebahagiaan tingkat tinggi. Mari sejenak kita perhatikan, adakah jenis kebahagiaan yang sanggup berdiri tanpa hadirnya tiga nilai ini? Bahkan kebahagiaan jenis terendahpun akan gagal menjadi bahagia jika salah satu unsur tadi tengah absen.

Berumah tangga seharusnya menciptakan kebahagiaan. Tetapi kebahagiaan berumah tangga itu akan cuma jadi khayalan jika salah satu saja nilai ini berkurang atau hilang. Adakah rumah tangga yang sanggup bertahan tanpa cinta? Katakanlah cinta itu ada tetapi telah berkurang kadarnya. Pasti kadar kebahagiaannya akan terdegradasi juga. Katakanlah cinta itu tetap ada dan menyala, tetapi kepatuhan diantaranya telah merosot maka konfliklah jadinya. Biarlah cinta dan kepatuhan masih ditempatnya semula, tapi keikhlasan tengah lupa akan dirinya. Maka mahligai rumah tangga tadi akan hanya berisi tuntutan dan ketika tuntutan itu gagal terpenuhi, buahnya adalah kekecewaan. Dan saat kekecewaan memuncak, kelanjutannya mudah diduga.

Bernegara seharusnya juga membahagiakan. Baik sebagai rakyat maupun sebagai yang memimpin. Rakyatnya mencintai pemimpinnya dan si pemimpin mengayomi rakyatnya. Rakyat patuh pada aturan dan pemimpin adil dalam segala sikap tindakannya. Rakyat ikhlas dipimpin dan pemimpin bijaksana memimpin rakyatnya. Maka di sebuah daerah, provinsi bahkan negara yang satu atau ketiga nilai itu telah merosot, bisa tergambarlah tingkat kebahagiaan rakyatnya.

Namun anehnya, dalam relasi kenegaraan atau kebangsaan antara rakyat dan pemimpin, ‘teori’ diatas tidak berlaku penuh. Saat nilai kepatuhan, keikhlasan dan cinta mulai hilang Cuma rakyatlah yang berani menanggung pahitnya. Pemimpin bisa tetap bahagia sementara rakyatnya amat menderita. Pemimpin bisa terus hidup bergaya bersamaan dengan rakyatnya yang terpaksa menikmati sengsara. Pemimpin bisa terus menikmati aneka fasilitas sementara di pelosok sana si rakyat harus mengular antre pembagian jatah beras. Buruk pula kualitasnya. Jadi, ternyata rakyatlah yang selalu siap menanggung penderitaan. Nyaris tidak ada pemimpin zaman kini yang siap menanggung kesulitan dan membiarkan rakyatnya menjalani kegembiraan.

Jelas sudah, demikian besar dan luhur kedudukan qurban beserta esensi nilai yang dibawanya. Tidak sekadar prosesi penyembelihan hewan tetapi ada nilai esensial yang harus tetap dijaga. Bukan cuma tradisi tahunan membagi-bagikan daging ke lingkungan sekitar melainkan ada warisan sejarah yang perlu dipertahankan. Dan demi memelihara itu, Allah dan RasulNya memerintahkan hambanya yang mampu untuk berqurban.

Maka demi menjaga pertalian sejarah kita kepada nabi Ibrahim dan Ismail bahkan jauh lagi kepada Nabi Adam, kita bulatkan niat untuk berqurban. Toh ongkosnya tidak semahal ibadah haji, tidak perlu antre mendaftar, tidak dibatasi kuota dan tidak perlu seremoni segala. Bisa dicicil pula. Jadi kalau kesempatan tahunan ini sampai kita abaikan, kata bang Haji Rhoma ini sungguh TERLALU.

 

Fatih Abdul Aziez, S.Sos

Pekan 3 Oktober 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s