Karena Ego, Zakat Justeru Memakan Korban

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” Al Baqarah :267)

 

Memang benar yang dikatakan para ulama. Tanpa ilmu, ibadah seseorang bisa keliru, pahalanya tidak sempurna atau rusak, tidak sah, bahkan bisa menimbulkan kemubaziran atau kerugian. Sholat, jika tidak sah wudhunya, maka sholatnya juga tidak sah. Berpuasa jika tidak dapat mengendalikan emosi, bergunjing atau berbuat fasik lainnya, meskipun puasanya sah tetapi pahala puasanya bisa rusak atau gugur. Jadilah kita hanya mendapat lapar dahaga saja.

 

Jadi, setelah beriman seseorang perlu membekali diri dengan ilmu agar ibadahnya benar sesuai tuntunan Rasul. Tentu kita tidak ingin nilai ibadah kita sia-sia. Kita ingin sholat kita, yang wajib  maupun yang sunnah diterima dan mendapatkan pahala dari Allah swt. Kita juga ingin zakat yang telah kita tunaikan sah, mensucikan harta kita sekaligus bermanfaat maksimal bagi para penerima zakat.

 

Bulan Ramadhan bulan dimana setiap muslim wajib membayar zakat fitrah. Di bulan ini, juga menjadi kebiasaan sebagian orang untuk menunaikan zakat hartanya. Zakat termasuk juga didalam rukum Islam. Sehingga zakat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Kedudukannya bahkan didalam Al Quran sering disandingkan dengan kewajiban mendirikan sholat.

 

Zakat merupakan ibadah Maaliyah (harta benda) yang disyariatkan. Zakat memiliki peran kontribusi sangat penting bagi dunia Islam. Zakat menjadi pondasi sekaligus tiang kokoh bangunan Islam. Maju dan berkembangnya umat Islam sangat dipengaruhi oleh bagaimana pengamalan umat terhadap zakat. Semakin umat Islam menyadari, memahami dan melaksanakan tuntunan zakat secara sempurna, semakin pula kontribusi zakat untuk mengokohkan kondisi umat.

 

Sayangnya saat ini nampaknya masyarakat, khususnya para aghniya (orang kaya) masih sangat sedikit yang memahami secara baik akan syariat zakat ini. Meski kesadaran sudah mulai meluas tetapi  masih banyak praktik berzakat yang kurang memperhatikan aspek syariat maupun kemanfaatan dan dampak dari zakat itu sendiri. Muzakki yang memiliki kesadaran untuk berzakat dan sekaligus memilki pemahaman yang utuh terhadap zakat masih sedikit.

 

Pertama, mayoritas masyarakat kita hanya mengenal zakat fitrah saja. Sementara wawasan tentang zakat harta masih sangat awam. Kedua, belum seluruh orang yang sebenarnya wajib zakat, sadar kewajiban zakat. Ketiga, orang kaya yang sudah sadar zakat, belum sempurna pemahamannya tentang dunia zakat. Apa manfaat luas dari zakat, kapan ia harus membayarkan zakatnya, bagaimana menghitungnya, dan kemana sebaiknya menyalurkan zakatnya.

 

Kita tentu meyakini bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Seluruh ketentuan syariat didalamnya pastilah juga sempurna. Termasuk ketentuan tentang zakat. Secara syariat, menunaikan zakat selayaknya melalui Lembaga Amil Zakat. Mengapa? Karena keberadaan Amil sangat jelas tertera didalam Al Quran.

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat (Amil), para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk berjuang dijalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At Taubah:60)

 

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkandan mensucikanmereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At Taubah : 103)

 

Betapa sempurnanya rencana Allah akan syariatNya ini. Allah tidak hanya mensyariatkan zakat, infaq sedekah, tetapi juga menyiapkan instrumen yang akan menjaga terlaksananya Zakat secara optimal. Allah menegaskan adanya Amil Zakat sebagai salah satu dari delapan ashnaf (yang berhak menerima zakat). Adanya amil dimandatkan untuk dapat mengurus 7 golongan yang lain. Adanya dan bekerjanya amil secara optimal, akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan zakat.

 

Kita sama-sama sedih dan prihatin, faktanya masih banyak kaum muslimin yang tergolong kaya, tetapi masih bersikeras menyalurkan zakatnya dengan cara-cara yang kurang tepat. Hampir setiap tahun pada saat Ramadhan, kita lihat berita keluarga kaya yang membagi-bagikan zakat mereka dengan cara menyiapkan ratusan bahkan ribuan kupon yang akan ditukarkan dengan amplop berisi 20.000 sampai 30.000 rupiah. Akibatnya masyarakat dhuafa berbondong-bondong menantikan saatnya pembagian. Terjadilah hal-hal yang tidak kita harapkan, bahkan sampai tragedi kematian akibat ketidakteraturan massa.

 

Menyaksikan hal seperti itu kita tentu patut berpikir, keadaan seperti inikah yang Islam inginkan? Realita inikah yang dimaksudkan oleh disyariatkannya Zakat? Jika gambarannya semengenaskan ini, tentu kita meyakini bahwa bukan seperti inilah Islam menghendaki umatnya menjalankan praktek zakat. Terjadinya hal-hal buruk seperti itu pastilah akibat kita mengabaikan petunjuk Allah dan RasulNya. Kita mengabaikan peran Amil zakat.

 

Kita lebih mengedepankan ego kita. Maka ego kita itulah yang pada akhirnya menimbulkan kerugian-kerugian. Kerugian karena harta zakat tidak tersalurkan kepada pihak yang benar-benar berhak, kerugian karena telah menimbulkan korban luka-luka bahkan meninggal dunia. Juga kerugian karena telah memelihara kemiskinan dan mental miskin dari para dhuafa. Kerugian karena telah mencoreng nama baik dan kemuliaan agama. Kerugian karena praktek seperti itu hakekatnya adalah kemubaziran karena dana zakat yang diterima digunakan untuk kepentingan konsumtif semata. Kerugian karena amalan zakat kita sangat mungkin tercemar virus riya dan pada akhirnya tidak mendapat pahala apa-apa.

 

Praktek zakat semacam ini memang secara syariat tidak dilarang. Yaitu dengan cara menyalurkan langsung kepada mustahik. Akan tetapi tentunya dalam perspektif fiqih lainnya, aspek kemanfaatan dan prioritas harus juga menjadi pertimbangan. Sehingga antara menunaikan zakat langsung ke mustahik dengan menyalurkan melalui Lembaga Amil Zakat lebih utama dan lebih manfaat.

 

Kurangnya pengetahuan dan pemahaman secara utuh tentang tuntunan syariat zakat ini yang menjadi kendala utama mengapa terjadi praktek zakat seperti disebut diatas. Oleh karena itu perlunya sinergi antara pemerintah, majelis ulama, para da’I dan praktisi di lembaga Amil Zakat untuk terus melakukan sosialisasi dan edukasi seputar dunia zakat. Potensi zakat sungguh luar biasa besar dan jika tidak dikelola dengan baik melalui lembaga yang amanah dan profesional, maka akan banyak dana zakat yang kurang optimal manfaatnya, kalau tidak dikatakan mubazir.

Fatih Abdul Aziez, S,Sos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s