Lalu Apa setelah Ramadhan?

Pada saat bulettin edisi 8 ini kami buat, Ramadhan masih 8 hari tersisa. Saat bulettin ini selesai dicetak dan siap dibagikan ke masjid-masjid, perkantoran dan masyarakat, usia Ramadhan mungkin sudah semakin menipis. Hari Raya Idul Fitri sudah kian dekat.

 

Semakin dekat  jarak kita menuju Lebaran, semakin sibuk juga kita agaknya. Dimana-mana terlihat jelas kesibukan masyarakat. Umumnya masyarakat sibuk mempersiapkan menu berbuka puasa, saat sore selepas Ashar. Di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan terlihat jelas kepadatan semakin memuncak. Orang, terutama kaum ibu mulai bergerilya mencari pakaian dan perlengkapan sholat baru untuk dipakai saat Hari Raya. Ibu-ibu juga mulai berbelanja menyiapkan logistik rumah tangga untuk hidangan saat lebaran.

 

Di bank-bank dan mesin ATM, orang mulai sibuk menukarkan uang untuk keperluan lebaran, berbagi angpau, maupun keperluan lain. Di tempat pangkas rambut atau salon, orang-orang juga mulai mempersiapkan diri memperindah penampilan.

 

Dibengkel-bengkel mobil ataupun motor, ramai orang menservis atau ganti oli kendaraannya guna mempersiapkan agenda bersilaturrahim atau mudik lebaran. Pun dijalan-jalan protokol atau lintas daerah mulai terlihat para pemudik luar daerah yang melintasi dengan membawa barang bawaan. Khas pemandangan di saat momen mudik lebaran.

 

Serupa dengan jenis kesibukan lainnya, di kantor Lembaga Amil Zakat PKPU juga terjadi kesibukan. Semakin mendekati lebaran semakin sibuk para petugas amil. Semakin banyak masyarakat yang mendatangi kantor atau menelpon meminta layanan jemput zakat. Setiap menit ada saja tamu yang datang untuk membayarkan zakat fitrah, fidyah, infaq shodaqoh maupun zakat hartanya. Selain orang yang hendak membayar zakat, banyak juga kelompok masyarakat yang mustahik berdatangan untuk meminta jatah zakat baginya.

 

Berbeda dengan pemandangan ‘sibuk’ di tempat-tempat lainnya, disuatu tempat justeru menjadi semakin sepi. Tempat itu adalah Masjid. Berbeda dengan pasar atau pusat perbelanjaan yang semakin mendekati lebaran semakin ramai, di masjid-masjid besar dan megah suasana justeru semakin sunyi. Bisa kita lihat dari keramaian saat sholat isya dan tarawih. Bila diawal-awal Ramadhan masjid penuh sesak dengan jamaah, di sepuluh hari terakhir barisan jamaah semakin surut. Antusiasme masyarakat sudah bergeser dari masjid ke pasar.

 

Kecuali segelintir masjid yang mengadakan agenda I’tikaf bersama, seperti di masjid Jami’ Tarok Bukittinggi, masjid-masjid lain telah lebih dulu sepi. Tidak hanya sepi jamaah tarawehnya tetapi sepi dari aktifitas ubudiah dan mu’amalah lain. Begitupun jamaah sholat shubuh yang nyaris membludak saat awal Ramadhan, kini mulai kembali kekeadaaan seperti hari-hari biasa. Rupanya semangat Ramadhan hanya mampu bertahan beberapa hari saja bagi kebanyakan orang. Kebanyakan lainnya, telah gugur dalam kompetisi bahkan sebelum mencapai pertengahan Ramadhan.

 

Sungguh ini memang realita yang ironis. Nampaknya ummat ini memang masih jauh dari pemahaman tentang Ramadhan, hikmah, keutamaan, peluang dan fasilitas lain yang Allah tawarkan. Disaat kita diperintahkan memperbanyak ibadah, kita justeru mencari kesibukan yang akhirnya melupakan ibadah. Kita lupa tujuan puasa. Kita tidak cukup sabar menempuh ‘latihan’ penggemblengan sebulan penuh demi menjadi insan yang baru. Kita abaikan kesempatan emas bulan Ramadhan.

 

Saya jadi teringat sebuah syair.

“Siapa yang tidak merindukan datangnya Ramadhan, ia takkan bersungguh-sungguh mengisi Ramadhan. Siapa yang tak bersungguh-sungguh mencari ampunan, ia takkan mendapat ampunan ketika berlalu Ramadhan. Siapa yang tidak bersungguh-sungguh mengharap Rahmat Allah, ia tidak akan mendapatkannya. Siapa yang tidak bersungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, ia akan malas beribadah di 11 bulan lainnya.”

 

Kita telah berada di beberapa hari penghujung Ramadhan, saatnya menggunakan kesempatan waktu tersisa untuk muhasabah, evaluasi kegiatan. Apakah hari-hari Ramadhan berlalu telah kita isi dengan ibadah secara maksimal? Seriuskah kita menggapai derajat taqwa? Benarkah kita ‘berharap’ mendapatkan Lailatul Qadar?

 

Ramadhan seharusnya membawa perubahan positif bagi jiwa kita, bagi pola pikir kita, bagi akhlak kita, bagi pergaulan kita, bagi keluarga kita dan bagi ummat Islam keseluruhan. Jika setelah melewati Ramadhan ternyata kita masih menjadi manusia yang lama, maka sebenarnya kita sedang tidak mendapatkan apa-apa dari Kemuliaan Ramadhan. Kita hanya menjadi penonton atau penggembira dari segelintir insan yang bersungguh-sungguh menghidupkan Ramadhan. Kita menjadi pihak yang merugi.

 

Oleh: Fatih Abdul Aziez, S.Sos

 

 

KULTWEET LAILATUL QADAR

Ust. Ahmad Mudzoffar Jufri

1. Lailatul qadar (malam kemuliaan) itu lebih baik daripada seribu bulan (QS. 97:3). Betapa rugi orang yang melewatkannya sia-sia!

2. Siapa yang qiyamullail di malam lailatul qadar dengan iman dan ikhlas, akan diampunkan dosa-dosa nya yang telah lalu (HR.Buk

hari-Muslim)

3. Siapa yang tak mendapat bagian kebaikan lailatul qadar, berarti telah dijauhkan (dari rahmat Allah) (HR.Nasa’i, Baihaqi dll)

4. Carilah lailatul qadar diantara sepuluh malam akhir dari bulan Ramadhan (HR. Al-Bukhari)

5. Temukanlah lailatul qadar pada malam ganjil diantara sepuluh malam akhir dari bulan Ramadhan (HR.Bukhari-Muslim)

6. Kapan tepatnya lailatul qadar diantara 10 malam akhir itu? Yang rajih, itu dibuat misteri dan pindah-pindah. Maka perintahnya: carilah!

7. Lebih-lebih saat beda awal puasanya,dimana penentuan malam ganjilpun relatif.Karena yang ganjil bagi si-A adalah genap bagi si-B, begitu sebaliknya

8. Bahkan hitungan 10 malam akhir sendiri juga bisa beda2, tergantung usia bulan Ramadhan antara 30 hari dan 29 hari

9. Jika umur Ramadhan 30 hari, maka 10 malam akhir dimulai malam ke-21, dan malam2 ganjil berikutnya adalah malam ke-23, ke-25 dan seterusnya

10. Saat umur Ramadhan 29 hari, maka 10 malam akhirnya mulai yang ke-20, dan malam2 ganjil slnjtnya justru yang ke-22, ke-24 dstnya

11. Maka yang afdhal, seperti teladan Sang Baginda SAW, adalah dengan meratakan upaya mujahadah selama 10 malam akhir itu, pasti dapat

12. Jika masuk 10 malam akhir, Rasul SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluargnya (HR.Bukhari-Muslim)

13. Bunda Aisyah ra.: Nabi SAW selalu itikaf pada 10 malam akhir Ramadhan sampai beliau wafat (HR. Al-Bukhari-Muslim)

14. Apakah hanya dengan shalat, tilawah dan itikaf saja kemuliaan lailatul qadar bisa diraih? Bagaimana dengan  orang yang terhalang darinya?

15. Sejatinya, siapapun dlm kondisi apapun berpeluang sama untk bisa memperoleh keberkahan malam 1000 bulan

16. Hanya saja dengan kadar dan prosentase perolehan yang berbeda-beda. Ada yang dapat 50 %, atau lebih atau kurang atau bahkan sangat kurang

17. Dan yang membedakan bukanlah jenis amal apalagi jenis kelamin. Tapi kekuatan iman, kejujuran niat, keteguhan tekad dan kesungguhan usaha

18. Kaedahnya adalah, saat leluasa, sebisanya jangan lewatkan ibadah-ibadah spesial lailatul qadar seperti shalat, tilawah, dzikir dan itikaf

19. Kala kondisi menghalangi dari sebagian ibadah, segeralah beralih ke amal lain yang bisa dan pahala takkan beda/ lebih istimewa

20. Intinya amal saleh apapun sesuai kondisi masing-masing, bisa jadi sarana menggapai lailatul qadar, mungkin kultwit ini juga

21. Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni/’anna!Ya Allah sungguh Engkau Maha Pemaaf.Maka maafkanlah aku/kami!

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s