Potensi Zakat Bukittinggi Mencapai 25 M/ Tahun *

Oleh : Fatih Abdul Aziez **

jam-gadang-bukittinggi-at-nightBukittinggi– Bulan Ramadhan adalah bulan disyariatkannya Puasa wajib, bagi orang-orang beriman. Selain itu bulan Ramadhan juga bulan dimana umat Islam berlomba-lomba melakukan berbagai amal kebaikan. Menggiatkan sholat berjamaah di masjid dan taraweh, memberikan sedekah untuk berbuka puasa, berzakat dan berinfaq, tadarrus al Quran, dan sebagainya. Umat Islam menjadi sibuk untuk memperbanyak ibadah.

 

Bagi lembaga Amil Zakat Nasional seperti PKPU, bulan Ramadhan juga menjadi bulan yang paling menyibukkan. Hal ini karena umat Islam pada umumnya menunaikan zakat, baik zakat fitrah maupun zakat maal (harta), infaq dan sedekah di bulan Ramadhan. Kebanyakan diantara mereka masih beranggapan bahwa afdholnya membayarkan zakat itu di Bulan Ramadhan.

 

Kecuali zakat fitrah yang memang harus ditunaikan di bulan Ramadhan, zakat maal sebenarnya ditunaikan pada saat mencapai nishob dan haulnya. Artinya, membayarkan zakat harta itu setelah mencapai cukup kadarnya dan telah melewati 1 tahun hijriyah. Jadi, bila harta seseorang itu telah mencapai nishob dan haulnya di bulan Rajab, maka sesegera mungkin ditunaikan pada bulan tersebut. Tidak perlu menunggu hingga saat Ramadhan.

 

Hal tersebut dikarenakan kurang sempurnanya informasi syariat tentang zakat kepada masyarakat. Umumnya masyarakat hanya mengenal zakat fitrah saja. Zakat harta belum terlalu mereka pahami. Wawasan dan edukasi zakat ini menjadi penting karena zakat sebagai rukun Islam merupakan salah satu tiang kokoh tegaknya agama. Tanpa kekuatan satu tiang ini, bangunan agama akan rapuh. Dan ketika syariat Islam berbicara tentang Zakat sebagai salah satu Rukun/ tiang Agama, maka sesungguhnya yang dimaksud adalah Zakat secara keseluruhan, zakat fitrah dan zakat Harta.

 

Hal tersebut perlu dipahami masyarkat karena potensi zakat harta dari orang-orang yang kaya jauh lebih besar dari zakat fitrah seluruh umat Islam di suatu wilayah. Zakat harta merupakan pra syarat bagi kekuatan ekonomi umat dan negara. Sebagai contoh, potensi zakat fitrah di Kota Bukittinggi dengan jumlah penduduk sekitar 111.000 jiwa dan yang muslim berjumlah 95 %-nya atau sekitar 105.450 jiwa. Maka besarnya nilai zakat fitrah seluruh penduduk muslim di Bukittinggi dikalikan 2,5 kg beras atau setara Rp.25.000 adalah Rp.2.636.250.000. Singkatnya, Rp.2,6 milyar lebih.

 

Katakanlah terdapat 10 % penduduk yang fakir-miskin dari jumlah penduduk muslim Bukittinggi, yaitu 10.545 jiwa. Jumlah inilah yang menjadi sasaran penerima zakat sebagai mustahik prioritas. Jumlah total zakat fitrah tadi dibagikan kepada  jumlah penduduk fakir-miskin. Rp. 2.636.250.000 : 10.545 = 250.000. artinya setiap orang/jiwa dari penduduk miskin tersebut akan mendapatkan hak sebanyak Rp. 250.000 dari zakat fitrah. Jika dikonversi ke beras, setiap penduduk miskin akan mendapatkan sebanyak 25 kg beras.

Bila rata-rata setiap keluarga miskin tersebut terdiri dari 5 orang, maka terdapat 2109 keluarga miskin penerima zakat. Masing-masing keluarga mendapatkan 125 kg beras. Jumlah tersebut semoga saja mencukupi untuk kebutuhan makanan pokok keluarga selama 6 bulan. Jadi, penerimaannya lebih besar, manfaatnya bisa lebih panjang.

 

Hasil perhitungan tersebut tentu hanya dapat kita capai jika masyarakat menunaikannya melalui lembaga Amil yang terpercaya dan profesional. Jelas pengelolaannya dan tepat saasaran dalam distribusinya. Optimalisasi manfaat zakat akan sulit dicapai jika masyarakat menyalurkan zakat secara sporadis.

 

Kita dapat memaklumi, keterbatasan yang dimiliki panitia zakat di masjid atau panitia dadakan di sekolah-sekolah misalnya, akan menghambat tercapainya nilai manfaat yang optimal dari zakat tadi. Masyarakat menyalurkan zakat fitrah umumnya mendekati lebaran, panitia masjid amat terbatas kapasitasnya, belum lagi berbicara target sasaran yang harus benar-benar sesuai kriteria. Pada banyak kasus, sering terjadi pada malam takbiran panitia Zakat fitrah masjid membagikan zakat fitrah terkumpul dengan cara sporadis. Sehingga ada sebagian yang tidak tepat sasaran. Dan jumlah yang diterima oleh keluarga miskin umunya hanya sekitar 5-10 kg beras. Jauh dari kalkulasi diatas tadi.

 

Demi tercapainya optimalisasi manfaat dan tujuan zakat sebagaimana disyariatkan agama, tentu dibutuhkan model pengelolaan yang lebih baik. Simulasi diatas baru berbicara tentang zakat fitrah. Sementara zakat harta nilainya jauh lebih besar lagi.

 

Jika dalam hal zakat fitrah kita mengambil angka 10 % dari penduduk Bukittinggi sebagai mustahik/ penerima manfaat, dalam hal zakat harta kita ambil angka 10 % sebagai muzakki. Jadi kita anggap ada sebanyak 10.545 orang muzakki di Bukittinggi. Jika nilai donasi setiap muzakki adalah Rp 2.400.000 per tahun, (rata-rata donasi muzakki ke PKPU), maka akan muncul angka Rp. 25.308.000.000,-. Rp. 25 milyar lebih pertahun potensi zakat di Bukittinggi. Itupun dengan asumsi standar donasi paling rendah. Padahal  tidak sedikit dari muzakki yang berzakat sampai Rp 10 juta bahkan Rp. 30 juta per tahun.

 

Potensi zakat di Bukittinggi bisa menyamai APBD kota yang 42 milyar. Namum demikian memang saat ini masih jauh panggang dari apinya. Antara potensi dan realisasi masih amat timpang. Dibutuhkan upaya serius untuk mengedukasi masyarakat agar dapat menunaikan zakat melalui lembaga Amil yang terpercaya. Sebagai catatan, tahun 2011 lalu saja PKPU Bukittinggi belum sampai di angka 2 Milyar dalam penghimpunannya. Entah berapa yang terkumpul melalui BAZ dan LAZ Nasional lainnya.

 

Upaya-upaya untuk mengedukasi masyarakat sudah dilakukan PKPU Bukittinggi antara lain dengan pendekatan kerjasama program melalui komunitas-komunitas, sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, BUMN, dan korporasi swasta. Harapannya tingkat kepercayaan masyarakat semakin tinggi untuk menyalurkan zakat infaq sedekahnya melalui lembaga Amil Zakat.

*Koleksi rilis  PKPU Bukittinggi tahun 2012

**Pernah menjadi Kepala Cabang PKPU Bukittinggi periode Tahun 2012-2013

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s